Panitia Kajian Islam Bintaro
Iman and Ilmu is number uno..

Tanya Jawab: Memandikan Jenazah

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa menjaga Al Ustadz Dzulqarnain dan kita semua untuk istiqomah di atas al haq. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada Al Ustadz Dzulqarnain untuk senantiasa menuntut ilmu kepada para ulama dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat bagi umat.

Ada pertanyaan:
1. Di daerah kami ketika memandikan jenazah, (maaf) lubang dubur mayit dibersihkan dengan cara memasukkan jari petugas ke lubang tersebut sampai jauh ke dalam, seperti menusuk, berlapiskan kain. Kain tersebut berulang kali dimasukkan dan petugas meneliti keadaan kain dari warna dan baunya. Jika kain tetap bersih dan tidak ada baunya lagi maka dianggap lubang dubur sudah bersih. Dalam rekaman kajian Al Ustadz Dzulqarnain tentang Ahkamul Janaiz tidak disebutkan cara tersebut, hanya global cara seperti istinja. Permasalahannya, seseorang berwasiat bahwa jika ia meninggal maka ia minta lubang duburnya dibersihakan dengan cara yang lazim di daerah kami tersebut. Mohon nasihat Ustadz.

2. Ada mayit yang mempunyai penyakit sehingga kotoran keluar terus-menerus dari lubang duburnya. Petugas pemandian sudah berupaya membersihkannya namun kotoran tetap keluar. Kebiasaan di daerah kami, dengan ketentuan bahwa mayit tidak boleh disholatkan kecuali sudah dimandikan bersih, maka petugas lalu mengalirkan air melalui selang ke dubur mayit sambil diholatkan. Apa hukum cara demikian?

Muhammad Syarif
Samarinda, Kalimantan Timur
1 Shafar 1430 H/29 Januari 2009

Jawaban oleh Ustadz Dzulqarnain

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Al-Akh Muhammad Syarif -Waffaqanalllahu Waiyyahu li kulli maa yuhibbuhu wa yardhaahu-, jawaban pertanyaan antum adalah sebagai berikut,

Pertama, Kebiasaan yang antum sebutkan dalam pertanyaan tergolong sikap berlebihan yang dicela dalam agama. Seharusnya mayyit dimandikan sewajarnya saja. Bila keluar dari duburnya sesuatu maka hendaknya dibersihkan. Bila tidak nampak kotoran dari duburnya maka hal tersebut telah cukup.

Dua, Siapa yang berwasiat untuk dilakukan padanya hal tersebut bila dia meninggal maka itu tergolong berwasiat dengan hal yang dibenarkan dalam agama. Kalau keluarganya tidak melakukan wasiatnya, insya Allah tidak mengapa.

Tiga, Kalau kotoran bisa dihentikan dengan cara disumbat, insya Allah hal tersebut telah cukup. Kalau memang sama sekali tidak bisa berhenti -dan saya sendiri sulit menggambarkan hal tersebut terjadi- maka Allah tidak membebani manusia kecuali sesuai dengan kemampuan mereka. Kalau disholati dan kotoran masih melekat padanya, sholat tersebut adalah sah.

Wallahu A’lam

Ditulis oleh
Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Ahad, 6 Shofar 1430H

No Responses to “Tanya Jawab: Memandikan Jenazah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: