Panitia Kajian Islam Bintaro
Iman and Ilmu is number uno..

Tanya Jawab: Pelaku Maksiat

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum ya ustadz..

Semoga rahmat dan berkah Alloh senantiasa dicurahkanNYA  untuk ustadz dan keluarga. Dan selalu dalam penjagaanNYA.

Saya mau bertanya tentang :
Al ‘ilmu nuurun. Wa nuurullohi laa yuhda lil ‘aashiy
“Ilmu itu adalah cahaya. Cahaya Alloh tidak diberikan kepada pelaku maksiyat”

Apakah itu sebuah hadits?  Kalau hadits, bagaimana derajatnya?

Bagaimana penjelasan tentang “pelaku maksiat” ?
Apakah semua orang yg tidak dalam ketaatan pada Alloh, bisa disebut “pelaku maksiat” ?
Misalnya : orang yg berikhtilat, orang yg tidak berjilbab (wanita yg tidak menutup aurat), orang yg isbal, yg menyerupai kaum yahudi / nashara, dst…. Apakah mereka bisa disebut pelaku maksiat ?

Apakah berbincang2 dengan teman (berlain jenis), meskipun hanya lewat media iptek, tidak dibolehkan ?  Misalnya untuk saling menasehati dalam agama ?  Bukankah Rosululloh juga berbincang kepada para shahabiyah ?

Mohon penjelasan ustadz.
Wassalamu’alaykum warahmatulloh wabarokaatuh

Jawaban oleh Ustadz Dzulqarnain:

Wa’alikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Ada beberapa perkara yang perlu saya jelaskan untuk menjawab pertanyaan penanya -semoga Allah senantiasa menjaganya-:

Satu : Apa yang disebutkan bukanlah hadits. Itu adalah ucapan Imam Waki’ bin Al-Jarrah, guru Imam Asy-Syafi’iy.

Dua : Tidak semua yang bukan ketaatan dianggap maksiat. Karena ada perbuatan yang bukan ketaatan tapi juga bukan maksiat, seperti perbuatan mubah dan makruh. Maksiat itu adalah Penamaan umum untuk segala hal yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.

Tiga : Permisalan yang ant sebutkan memang tergolong ke dalam bentuk maksiat, dimana hal-hal tersebut dimaklumi terlarangnya dalam agama kita yang mulia.

Empat : Berbicara dengan lawan jenis boleh saja, dengan beberapa ketentuan:
1. Ada keperluan syari’iy dalam hal tersebut, seperti kejadian para shahabiyah yang bertanya kepada Nabi shollallahu alaihi wa sallam.
2. Tidak memperindah dan melembutkan suara dalam berbicara. Karena dalam Al-Qur’an, Allah berfirman,
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk[1] dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya[2] dan ucapkanlah perkataan yang baik.”
[1]. Yang dimaksud dengan tunduk di sini ialah berbicara dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka.
[2]. Yang dimaksud dengan dalam hati mereka ada penyakit ialah: orang yang mempunyai niat berbuat serong dengan wanita, seperti melakukan zina.

Lima : Perlu saya ingatkan di sini, bahwa kadang syaithon memperdaya seorang hamba dari masalah berbicara dengan jenis ini. Bahkan kadang dalam pembicaraan masalah agama juga menjerumuskan seseorang ke dalam jerat syaithon.
Maka Nasehat ana, untuk berhati-hati dalam hal ini. Apalagi seorang perempuan muslimah sepatutnya mempunyai rasa malu yang menggambar keimanan dan kesholihannya.

Wallahu A’lam.

No Responses to “Tanya Jawab: Pelaku Maksiat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: