Panitia Kajian Islam Bintaro
Iman and Ilmu is number uno..

Tanya Jawab: Ma’mum Masbuk

Pertanyaan:

Bismillahirrahmanir rahim,
Yang terhormat Asatidzah hafidzhakumullaah,

Saya ingin bertanya tentang tata cara shalat masbuk yang sebagian masih samar bagi saya. Sebelumnya saya sudah pernah membaca artikel Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain Dikutip dari http://www.an-nashihah. com berjudul : “Posisi Duduk Masbuk” yang pernah dikirim di milis “artikel_salafy” .

Namun ada hal yang masih ingin saya tanyakan , yaitu setelah imam salam dan ma’mum masbuk melengkapi rakaat yang tertinggal :
1.       Misal masbuk pada shalat isya (4 rakaat) dan tertinggal 3 rakaat. Setelah imam salam, kita bangun dan tentunya melengkapi 3 rakaat lagi. Urutan yang biasa saya lakukan adalah :

  • Rakaat pertama : melakukan  tasyahud  awal
  • Rakaat kedua : tidak ada tasyahud
  • Rakaat ketiga : tasyahud akhir dan duduk tawarruk

Namun saya pernah sekali melihat ada yang melakukan dengan urutan berikut :

  • Rakaat pertama : tidak ada tasyahud
  • Rakaat kedua : melakukan  tasyahud  awal
  • Rakaat ketiga : tasyahud akhir dan duduk tawarruk

Manakah diantara kedua cara tersebut yang benar ?

2.       Posisi duduk Tasyahud pada saat kita menyempurnakan rakaat yang tertinggal , apakah cara duduknya selalu tawarruk atau ada juga yang harus iftirasy atau ada perinciannya ?.

3.       Pada saat imam melakukan tasyahud akhir, apakah ma’mum masbuk boleh membaca doa setelah tasyahud (sebelum salam) atau apakah doa itu hanya boleh dibaca diakhir, yaitu ketika kita tasyahud terakhir dlm menyempurnakan rakaat yang tertinggal , sebab itu akhir shalat kita ?

Jazakumullahu khair
Abu Usamah Wahid

Jawaban oleh Ustadz Dzulqarnain:

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Al-Akh Wahid Abu Usamah -semoga selalu dalam lindungan Allah-, jawaban pertanyaan sebagai berikut:

Satu, Apabila seorang makmum terlambat (masbuk) maka kewajibannya adalah menyempurnakan sholatnya dengan menambah raka’at yang kurang. Karena Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dan apa yang kalian luput maka sempurnakanlah. ” (Hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim)
Sabda beliau “sempurnakanlah” artinya lengkapi apa yang kurang dengan menambah kekurangannya, bukan dengan cara memulai dari awal raka’at.
Maka disini insya Allah telah jelas bahwa apa yang biasa antum lakukan sudah benar.

Dua, Telah dimaklumi bahwa dalam sholat yang punya dua tasyahhud terdapat dua kaifiat (cara) duduk, yaitu dengan cara iftirasy pada tasyahhud awal (dengan menancapkan kaki kanan dan duduk di atas kaki kiri) dan dengan cara tawarruq pada tasyahhud terakhir (dengan menancapkan kaki kanan dan menyelipkan kaki kiri dibawah kaki kanan sambil langsung duduk meyentuh lantai). Demikian diterangkan dalam beberapa hadits.
Jadi tasyahhud yang bukan pada akhir sholat maka duduknya adalah dengan iftirasy sebab penyebutan tawarruq hanya diterangkan pada akhir tasyahhud saja.
Tapi para ulama berbeda pendapat, bagi masbuk yang mendapati imam sedang duduk tawarruq di akhir sholatnya, apakah dia ikut duduk tawarruq atau dia tetap duduk iftirasy?
Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini,
Diantara masyaikh kami ada menguatkan duduknya adalah duduk tawarruq dengan mengambil zhohir dari hadits “Imam itu dijadikan untuk diikuti”, karena imam duduk tawarruq maka kita juga mesti duduk tawarruq mengikutinya.
Diantara mereka, ada yang menguatkan duduk iftirasy, dan mereka menganggap bahwa duduk imam pada tasyahhud akhri yang dianggap gerakan zhohir adalah duduknya saja, bukan kaifiat duduknya. Karena tidak hubungannya dengan kaifiat duduk, maka harusnya dia duduk iftirasy sebagaimana yang telah dituntunkan. Dan pendapat ini adalah pandangan yang sangat tajam karena mungkin sang imam berpendapat bahwa duduk pada tasyahhud terakhir adalah dengan cara iftirasy (sebagaimana pendapat sebagian ulama).
Dan diantara mereka ada yang mengambil jalan tengah bahwa duduknya adalah duduk tawarruq tapi tidak diwajibkan.

Bagi saya, pendapat yang mengatakan duduknya adalah dengan duduk iftirasy lebih kuat dan lebih tenang ke dalam hati. Dan itu adalah pendapat yang dikuat oleh Guru kami, Syaikh Muqbil dan guru kami, Syaikh Ubaid Al-Jabiry.

Tiga, Dari uraian di atas, nampak bahwa makmum yang masbuk belum terhitung duduk tawarruq (belum tasyahhdu akhir) sedangkan doa dalam tasyahhud hanya diajarkan oleh Nabi shollallahu alaihi wa sallam dalam tasyahhud akhir.

Wallahu A’lam

Ditulis oleh

Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
Kamis, pagi 3 Shofar 1430 H

About these ads

2 Responses to “Tanya Jawab: Ma’mum Masbuk”

  1. Berkaitan dengan artikel diatas,saya ingin bertanya kepada ustadz, “Bagaimana sikap kita apabila mendapati imam duduk tawaruk dalam rakaat terakhir sholat subuh atau sholat dua rekaat lainnya?apakah ikut duduk tawaruk atau iftirasy?Dan sejauh mana makmum dalam mengikuti gerakan imam dalam sholat?”
    Jazakallahu khoir..

    Berdasarkan penjelasan ustadz Dzulqarnain. Pendapat yang kuat adalah dengan mengikuti apa yang datang dari Rosulullah saat sholat 2 rakaat. Yaitu hanya dengan duduk iftirasy. Wallohu’alam.
    Mohon Maaf, blog ini bukan dikelola langsung oleh ustadz, ana hanya memposting tanya-jawab yang bersal dari milis.

  2. hem…
    saya jadi lebih tau ni


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: